Senin, 23 Januari 2012

Peternak Sukses

Peternak Sukses

KOMPAS - Krisis moneter tahun 1998 ternyata menjadi tonggak baru dalam sejarah kehidupan Nasib Budiono, peternak itik/bebek asal Dusun Gedang, Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. ”Sebelum membuka usaha ternak sendiri, saya ikut Pak Suwardi. Selama 12 tahun saya bekerja di peternakan milik beliau dan banyak belajar tentang bagaimana beternak bebek secara baik dan benar,” kata Nasib Budiono. Selama bekerja di peternakan milik tetangganya itu, Nasib tidak semata-mata mengharapkan imbalan uang alias gaji. Dia rupanya menimba ilmu beternak itik/bebek. ”Yang penting ilmunya, bukan berapa saya dibayar,” katanya. Gonjang-ganjing krisis moneter tahun 1998 berdampak pada kehancuran ekonomi, termasuk gulung tikarnya sejumlah usaha kecil peternakan bebek. ”Setelah tidak bekerja di peternakan Pak Suwardi, saya mencoba usaha sendiri,” katanya. Bermodalkan Rp 5 juta, Nasib membeli 3.000 itik. Saat memulai usaha peternakan itik/bebek, Nasib memeliharanya dengan cara tradisional. Bebek-bebeknya dibiarkan mencari makan di sungai kecil dan sawah. Alasannya, tidak cukup modal untuk membeli pakan ternak yang kala itu sangat mahal. ”Saya angon sendiri ke sungai dan sawah,” katanya. Seiring dengan berputarnya waktu, hasil usahanya berkembang pesat. Saat ini setidaknya ada 9.000 bebek di kandang miliknya dan 25.000-30.000 bebek di kandang milik mitra kerjanya, yang tersebar di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Ketekunan, keuletan, dan kehati-hatian dalam menjalankan usaha ternaknya tak ayal mengantarkan Nasib menjadi peternak itik/bebek yang berhasil. Kehidupan keluarganya pun kini jauh lebih baik. ”Alhamdulillah, dari usaha ternak itik, saya bisa membeli rumah, tanah, sepeda motor, dan mobil. Namun yang penting dalam hidup ini, saya bisa bermanfaat untuk orang lain,” katanya. Peternak binaan Omzet hasil ternaknya saat ini berkisar Rp 50 juta-Rp 60 juta per bulan. Omzet sebesar itu belum termasuk hasil ternak dari 32 mitra usaha yang dia modali di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, dan di Kepanjen, Malang. Peternakan itik miliknya dengan lima karyawan menyediakan bibit itik/bebek untuk para mitranya. Selain di desa tempat kelahirannya, kata Nasib menjelaskan, dia juga punya usaha ternak binaan di Kepanjen, Malang, yang mulai dikembangkan tahun 2003. ”Sekarang ini ada 15 peternak binaan saya yang saya modali dengan bibit itik untuk dibesarkan,” tutur Nasib seraya menekankan bahwa dia selalu mengedepankan kejujuran dan kepercayaan bagi para mitranya. Soal penetasan telur, Nasib mengaku memiliki 35 oven penetasan yang keseluruhannya mampu menghasilkan lebih kurang 10.000 anak itik. Harga setiap itik (anak bebek) Rp 3.200 untuk pejantan dan Rp 5.000 untuk betina. ”Setiap hari rata-rata 2.500 bibit itik saya kirim ke Samarinda dan Tarakan, Kalimantan Timur. Sebagian lainnya ke Makassar, Malang, dan Tulungagung. Kalau untuk bebek potong, lebih kurang 500 ekor per hari,” katanya. Usaha yang digeluti Nasib tidak hanya pembibitan itik dari proses penetasan oven, tetapi juga bebek potong dan bebek siap telur. ”Khusus untuk telur bebek, setiap hari saya bisa mengirim 9.000 butir untuk konsumsi, pembibitan, dan pabrik mi serta kerupuk,” katanya. Nasib, yang sejak berusia 2 tahun sudah yatim piatu karena orangtuanya (Madilan-Rukemi) meninggal, adalah potret anak keluarga miskin tetapi berhasil menggapai kehidupan layak dari beternak itik/bebek. ”Mbakyu saya, Ngatining, yang membiayai sekolah saya sampai SMP. Karena tidak ada biaya untuk melanjutkan (sekolah), ya saya mau tidak mau harus mencari pekerjaan untuk hidup,” tuturnya. Sebagai peternak itik/bebek, Nasib hanya berharap pemerintah memerhatikan harga pakan ternak yang kini cenderung naik dan mahal. ”Sekarang pakan ternak kosentrat 144 harganya Rp 290.000 per sak, katul Rp 2.500 per kilogram, dan kepala udang Rp 150.000 per blong,” keluhnya. Sebagai peternak itik/bebek yang terbilang sukses, Nasib tetap bersahaja dalam melakoni hidup. Jika ada waktu senggang, dia tak segan dan malu angon bebek ke sungai yang berada di belakang rumahnya. ”Sesekali saya masih angon bebek, dan di sungai ini saya dahulu memulai beternak itik serta memeliharanya sendiri,” katanya sembari menunjuk puluhan bebek yang berlarian. Kerinduan masa lalu saat angon itik dan melakoninya kembali tatkala dirinya sudah menapaki kesuksesan sebagai peternak tidak melarutkan Nasib dalam gemerlap kehidupan. ”Saya orangnya dari dahulu ya seperti ini, masih suka angon bebek,” katanya. Selama 13 tahun menjalankan usaha ternak itik/bebek, Nasib mengaku lancar-lancar saja. Walaupun demikian, kasus flu burung yang mencuat sekitar tahun 2004 berdampak pada penurunan omzet. ”Alhamdulillah, sampai sekarang ini aman-aman saja dan tidak ada ternak saya yang terserang flu burung. Namun, saat marak kasus flu burung, pengiriman itik dan telur bebek ke beberapa daerah, termasuk Bali, sempat tertunda. Hal ini berdampak pada penurunan omzet sampai 50 persen,” tuturnya. Menyoalkan dampak anomali cuaca terhadap pemeliharaan ternak itik/bebek, Nasib mengatakan, hal itu tak banyak berpengaruh. Namun, dia mengakui, produksi telur bebek menurun. ”Cuaca mendung, hujan, dan dingin bisa membuat produksi telur bebek turun sampai 60-70 persen,” katanya. Sebagai orangtua yang hanya mengenyam pendidikan sampai bangku SMP, dia termotivasi untuk lebih memerhatikan masa depan dan pendidikan anak-anaknya. Dia ingin anak-anaknya menjadi orang yang sukses dengan keilmuannya. ”Saya ingin anak saya sukses dan kuliah peternakan serta mengerti nutrisi. Apakah nanti mau jadi peternak seperti bapaknya, saya tak tahu. Kalaupun memilih jadi peternak, mereka bisa mengamalkan ilmu nutrisi yang diperoleh dari kuliah,” kata Nasib. (Abdul Lathif)

Jumat, 19 Maret 2010

ITIK PETELUR

http://www.itikpetelur.webs.com PENYUSUNAN RANSUM UNTUK ITIK PETELUR BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN INSTALASI PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN JAKARTA KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadiran Allah S.W.T, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga selesainya pembuatan brosur ini. Brosur ini merupakan salah satu informasi hash pengkajian IP2TP Jakarta tentang pemberian pakan efisien untuk pemeliharaan itik petelur secara intensif. Penyediaan pakan merupakan salah sate hal yang sangat penting terutama pada pemeliharaan ternak yang dilakukan secara intensif, dimana ternak berada di dalam kandang secara terus menerus dan pakan harus disediakan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan ternak. Oleh sebab itu biaya pakan yang dikeluarkan dapat mencapai 80% dari seluruh biaya yang diperlukan untuk pemeliharaan ternak. Salah satu usaha untuk menekan Maya pakan tersebut adalah dengan memakai bahan pakan yang murah harganya, mudah didapat dan tidak bersaing dengan makanan manusia, tanpa mengurangi kualitas atau berpengaruh negatif terhadap ternak. Semoga brosur ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam Penyusunan Ransum Itik Petelur. dan bermanfaat bagi semua pihak. Jakarta, Nopember 2000 Kepala Instalasi, Dr, Ir. Mei Rochjat D., Med. Nip: 080 040 302 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI . I. PENDAHULUAN II. PERSYARATAN 1. Air 2. Protein Dan Energi 3. Vitamin Dan Mineral III. BAHAN PAKAN ALTERNATIF UNTUK TERNAK ITIK 1. Dedak Padi 2. Singkong 3. Bekicot 4. Keong Mas 5. Cangkang 6. lkan Rucah IV PEMBERIAN PAKAN 1. Macam Bahan yang Digunakan 2. Cara Penyusunan Ransum 3. Cara Pemberian Pakan V. ANALISIS USAHA VI. KESIMPULAN DAFTAR BACAAN I. PENDAHULUAN Di Indonesia, ternak itik merupakan ternak unggas penghasil telur yang cukup potensial disamping ayam. Kelebihan dari ternak ini adalah lebih tahan penyakit dibandingkan dengan ayam ras sehingga pemeliharaannya mudah dan tidak banyak mengandung resiko. Umumnya, itik masih dipelihara secara tradisional dengan penggembalaan secara berpindah-pindah dari sawah sate ke sawah yang lain. Dengan semakin sempitnya areal penggembalaan dan banyaknya kasus kematian ternak akibat keracunan pestisida, maka pemeliharaan cara ini makin terancam kelestariannya. Salah satu usaha yang dipandang mampu mengatasi masalah ini adalah dengan mengalihkan sistem pemeliharaannya dari sistem tradisional ke sistem intensif dengan cara dikandangkan. Itik tidak lagi digembalakan di sawah untuk mencari makan sendiri, tetapi pakan dan minum disediakan dalam kandang (Gambar 1). Air untuk berenang-renang tidak disediakan sehingga itik hanya memanfaatkan energinya untuk produksi telur. Keuntungan pemeliharaan itik secara intensif adalah produktivitas telur lebih tinggi, kesehatan dan keselamatan itik lebih terjamin serta biaya pemeliharaan lebih efisien. Produksi telur itik yang dipelihara dengan cara digembalakan rata-rata 124 butir/ekor/tahun, sedangkan dengan sistem pemeliharaan intensif telurnya dapat mencapai lebih dari 200 butir/ekor/tahun. Dengan kata lain, itik yang dikandangkan mampu menghasilkan telur yang lebih banyak dengan produksi yang lebih stabil dan lebih baik mutunya daripada yang digembalakan. Pertimbangan ekonomis lainnya untuk memelihara ink secara intensif adalah dapat menghemat tenaga. Seorang peternak dalam sistem penggembalaan hanya mampu merawat paling banyak 100 ekor itik, sedangkan dengan cara dikandangkan mampu merawat 600-1.000 ekor itik sekaligus, dengan demikian biaya tenaga kerja lebih sedikit dan usaha ini cocok dijadikan usaha keluarga. Semakin meningkatnya pemeliharaan ink secara intensif (dikandangkan), maka pengetahuan dan keterampilan tentang penyusunan ransum dan pemberian pakan sangat diperlukan. Dalam upaya untuk membantu peternak itik dalam penyusunan ransum yang tepat guna, efisien dan hemat telah dilakukan beberapa kegiatan pengkajian di wilayah DKI Jakarta. Hasil yang diperoleh dalam pengkajian tersebut ditampilkan dalam brosur ini. II. PERSYARATAN KECUKUPAN GIZI Penyediaan pakan untuk itik yang dipelihara secara intensif wring menjadi kendala dalam peralihan cara pemeliharaan dari tradisional ke intensif, karma itik yang dipelihara secara intensif biasanya diberi pakan produksi pabrik atau pakan komersial yang menghabiskan 60-70% biaya produksi. Hal ini merupakan beban yang cukup berat apabila itik yang dipelihara hanya berproduksi rata-rata kurang dari 60%. Keadaaan ini memacu peternak untuk menyusun ransum itik sendiri. Penggunaan pakan komersial hanya terbatas untuk itik periode awal (umur 0-28 hari), hal ini berkaitan dengan alasan yang sifatnya ekonomis, disamping karma bahan baku pakan itik tidak mudah diperoleh. Pada pemeliharaan itik intensif semua kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan atau bertelur harus diberikan oleh peternak sehingga biaya yang dibutuhkan untuk pembelian pakan cukup tinggi. Oleh karma itu pemberian pakan yang murah dan memenuhi kebutuhan zat gizi sangat perlu untuk menunjang keberhasilan usaha peternakan itik. Zat gizi yang dibutuhkan oleh itik untuk dapat hidup, bertumbuh dan bertelur adalah: air, protein, sumber energi (lemak dan karbohidrat), vitamin dan mineral. Adapun uraiannya sebagai berikut : 1. Air. Air merupakan zat gizi yang penting terutama untuk proses metabolisme (pemecahan atau pembentukan zat gizi dalam tubuh), pengangkutan zat gizi dan zat khusus didalam darah serta untuk pengeluaran panas tubuh. Penyediaan air secara terus menerus sangat diperlukan karma ternak itik tidak dapat minum air dalam jumlah banyak pada suatu saat. Kekurangan air akan menyebabkan ternak kerdil bahkan mati. Berbeda dengan ayam, selain sebagai zat gizi (diminum), air juga dibutuhkan itik untuk membasahi kepalanya. Oleh karma itu ke dalaman air pada tempat minum harus dapat membasahi kepala itik. 2. Protein dan Energi Protein adalah zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, menggantikan jaringan tubuh yang sudah tua dan untuk pembentukan antibodi yang berguna untuk melawan penyakit di dalam tubuh. Penentuan kebutuhan protein selalu dihubungkan dengan tingkat energi dalam pakan karma protein dapat dijadikan sebagai sumber energi dan dibutuhkan dalam pembentukan protein. Untuk itik periode bertelur, pemberian pakan dengan kadar protein tinggi (18%) dapat memproduksi telur lebih balk dibandingkan pakan dengan kadar protein lebih rendah (16%), sedangkan energi metabolisme untuk itik yang sedang bertelur adalah 2.700 Kkal/kg. Pemberian kadar protein yang lebih rendah menyebabkan telur yang dihasilkan lebih kecil, sedangkan bila kadar energi pakan yang lebih rendah akan menyebabkan penurunan produksi telur, tetapi tidak mempengaruhi berat telur. 3. Vitamin dan Mineral Vitamin adalah zat gizi yang dibutuhkan sebagai pernbantu (katalis) dalam proses pembentukan atau pemecahan zat gizi lain di dalam tubuh, jadi hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Mineral dibutuhkan untuk membentuk kerangka (tulang) tubuh, membantu pencernaan dan metabolisme dalam sel serta untuk pembentukan kerabang (kulit) telur. Zat kapur atau (Calcium = Ca) dan fosfor (P) adalah zat mineral yang paling banyak dibutuhkan. Kedua zat ini mempunyai hubungan yang saling terkait. Untuk itik yang sedang bertelur dibutuhkan zat kapur dan fosfor yang cukup tinggi dalam pakannya berkisar 3,0% Ca dan 0,60% P. Penurunan zat kapur hingga 1,25% dalam pakan menyebabkan penurunan produksi telur dan kerabang telur yang lebih tipis. Kekurangan zat fosfor akan menurunkan nafsu makan dan menyebabkan pertumbuhan yang terlambat, serta penurunan produksi dan berat telur. Penambahan garam dapur 0,2% hingga 0,5% sudah dapat menunjang pertumbuhan dan produksi telur yang balk. Kebutuhan akan mineral lain (Mg, K, Zn, Fe, I, Mn, Mo, Se, Co, Cl) dan vitamin adalah dalam jumlah yang sangat sedikit. Dalam praktek sehari-hari digunakan campuran mineral dan vitamin (premix) yang telah banyak diperdagangkan dengan komposisi yang telah disesuaikan, sehingga hanya perlu diberikan sebanyak 0,25 - 0,5 Kg premix untuk tiap 100 Kg pakan. Secara ringkas kebutuhan zat gizi utama untuk itik yang disarankan disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Kebutuhan Beberapa Zat Gizi Untuk Itik Petelur. ANAK (0-8) MINGGU DARA (9-20) MINGGU PETELUR (>20) MINGGU Energi metabolis (KkaI/Kg) 3100 2700 2700 Protein kasar (%) 17 - 20 15 - 18 17 - 19 Ca (%) 0,6 - 1,0 0,6 - 1,0 2,9 - 3,25 P (% 0.6 0,6 0,6 III. BAHAN PAKAN ALTERNATIF UNTUK TERNAK ITIK Banyak bahan pakan alternatif (bahan pakan pilihan) yang bisa digunakan, namun dalam mencari bahan yang akan dipakai hendaknya berpegang pada kadar protein dan energi yang diperlukan itik. Bahan pakan sumber energi untuk itik antara lain adalah dedak padi, jagung, menu, tepung singkong, polar, nasi keying, roti afkir dan mie afkir, namun dalam pemberiannya sebaiknya tidak dalam bentuk keying, tetapi agak basah atau jika terlalu keras perlu direndam sebelum diberikan pada itik. Sebagai contoh perendaman diperlukan jika itik diberi nasi keying, sehingga nasi tersebut menjadi agak lunak/lembek dan dapat ditelan dengan mudah oleh itik. Bahan pakan sumber protein yang sangat disukai oleh itik dalam bentuk segar adalah ikan rucah, cangkang udang dan keong, namun pemberiannya haruslah dalam ukuran yang cukup kecil untuk memudahkan itik menelannya. Selain itu berbagai jenis bahan pakan sumber protein yang berbentuk tepung yang dapat diberikan kepada itik antara lain bungkil kelapa, tepung ikan, bekicot dan sebagainya. Kandungan zat gizi beberapa bahan Tabel 2. Kandungan Nutrisi Beberapa Bahan Pakan. Jenis Bahan Energi metabolis metabolis (kkaI-Kg) Protein kasar (%) Fosfor tersedia (%) Calsium tersedia (%) Metionin (%) Lisin (%) Dedak padi 2.400 12,0 1.0 0,20 0,25 0,45 Menir 2.660 10,3 0,12 0,09 0,17 0,30 Jagung 3.300 8,5 0,30 0,02 0,18 0,20 Bungkil kelapa 1.410 18,6 0,60 0,10 0,30 0,55 Tepung cangkang udang 2.000 30,0 1.15 7,86 0,57 1,50 Udang segar 2.900 54,20 1,40 4,20 0,57 1,50 Ikan rucah segar 3.122 64,33 3,37 4,15 1,79 5,07 Tepung ikan 2.960 55,11 2,85 5,30 1,79 5,07 Tepung bekicot 2.700 44.0 0,43 0,69 0,89 7,72 Polar 1.300 15,50 1,17 0,14 0,20 0,30 Limbah Roti - 10,50 0,13 0,17 - - Tepung Keong Mas - 46,20 0,35 2,98 0,30 1,37 Tepung Singkong 3.200 2,00 0,40 0,33 0,01 0,07 1. Dedak Padi Dedak path (bekatul) merupakan hash dari prows penggilingan path yang digiling, jumlahnya sekitar 10% dari total berat path. Pemanfaatan dedak sebagai bahan pakan ternak mempunyai kandungan karbohidrat atau sumber energi yang cukup tinggi. Penggunaan dedak path hingga 75% dalam ransum itik petelur tidak mengganggu produksi telur, asalkan kandungan nutrisi yang lainnya cukup. 2. Singkong Singkong merupakan tanaman yang mudah dijumpai dart banyak dihasilkan di Indonesia. Bagian singkong yang dapat digunakan sebagai bahan pakan itik adalah umbi gaplek. Tepung singkong/gaplek mempunyai kandungan karbohidat atau sumber energi yang tinggi, hampir menyamai jagung, tetapi miskin akan protein (sekitar 2%). Pada umbi singkong, sebagian besar sianida terdapat pada kulitnya. Pengupasan kulit umbi, perendaman dan pengeringan dapat menurunkan kadar sianida tersebut. Tepung singkong dapat digunakan dalam pakan ink hingga 30%. Pemberian dalam jumlah yang lebih tinggi akan menyebabkan ternak mencret (diare). 3. Bekicot Bekicot yang umumnya terdapat di pedesaan dapat digunakan sebagai sumber protein untuk itik. Bekicot segar mengandung protein kasar sekitar 15%, kadar protein ini dapat ditingkatkan dengan membuat tepung bekicot (dipisahkan dari kulit, dikeringkan lalu digiling). Tepung bekicot yang dibuat dari bekicot mentah mengandung 52% protein, sedangkan yang dibuat dari bekicot rebus mengandung 32,7% protein. Tepung bekicot mentah dapat dicampurkan dalam pakan itik hingga 15%, sedangkan tepung bekicot rebus hingga 20%. 4. Keong Emas Keong emas balk digunakan untuk campuran pakan itik karma hewan air ini mengandung banyak protein dan kalsium. Pemberian dalam bentuk segar dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap ternak, yaitu dapat menyebabkan penurunan produksi ternak karma di dalam lendir keong tersebut terdapat suatu zat anti nutrisi yang dapat menghambat pertumbuhan ternak, oleh sebab itu dianjurkan menggunakan keong Emas yang telah direbus, karma zat anti nutrisi yang ada akan berkurang atau bahkan hilang setelah proses perebusan selama 15-20 menu. 5. Cangkang Udang Cangkang udang (terdiri dari kepala dan kulit) merupakan limbah yang banyak ditemui di daerah pantai terutama di daerah yang mempunyai pabrik kerupuk udang dan penampungan (pengolahan) udang untuk ekspor. Cangkang udang basah mempunyai kadar air 60-65% dan apabila dikeringkan mengandung 50% protein kasar, 11% calcium dan 1,95% fosfor. Pemberian cangkang udang kering hingga 30°,% dapat meningkatkan produksi telur itik cukup tinggi. 6. Ikan Rucah Ikan rucah yang banyak dihasilkan di berbagai daerah dapat digunakan sebagai sumber protein bagi itik. Pemberian ikan rucah akan Baling melengkapi kebutuhan protein jika diberikan bersamaan dengan cangkang udang. IV. PEMBERIAN PAKAN Berdasarkan hash survei yang dilakukan terhadap peternak itik di Jakarta Timur diketahui bahwa jumlah pakan yang digunakan oleh peternak terbukti sangat berlebihan, yaitu rata-rata sebanyak 380 gr/ekor/hari, jauh melebihi jumlah yang dianjurkan yaitu hanya sebanyak 150 gr/ekor/hari. Kelebihan dalam jumlah pemberian pakan tersebut mengakibatkan terjadinya kelebihan dalam jumlah energi metabolis dan protein kasar. Jumlah energi metabolic dan protein kasar yang diberikan masing-masing 4.800 Kkal/kg dan 40,95%, jauh melebihi kebutuhan itik petelur yang hanya 2.500 Kkal/kg dan 18,28%. Melalui penghematan jumlah pakan yang diberikan akan dapat dilakukan penghematan dalam biaya pakan yang dikeluarkan. 1. Macam bahan pakan yang digunakan Bagi peternak skala kecil dengan jumlah itik puluhan ekor sampai ratusan ekor, dianjurkan untuk mengusahakan pakan alternatif Pakan ini dapat dibuat sendiri dengan alternatif bahan paling murah dan mudah didapat di sekitar lokasi usaha. Berbagai bahan pakan yang dapat digunakan antara lain adalah: dedak, menir, cangkang udang, ikan rucah, seng (ZnSo4), kapur dan Top Mix. Untuk dapat digunakan sebagai bahan pakan terlebih dahulu perlu dilakukan analisis terhadap bahan pakan tersebut, apalagi wring dilaporkan bahwa kandungan gizi suatu bahan pakan dapat berubah tergantung kepada asal bahan tersebut, ada atau tidak adanya pemalsuan, lama/baru kondisi penyimpanan dan prows produksinya. 2. Cara penyusunan Ransum Setelah diketahui kebutuhan gizi serta kandungan gizi bahan pakan yang tersedia, selanjutnya dapat disusun pakan yang tepat agar campuran pakan tersebut dapat memenuhi kebutuhan itik untuk berproduksi dengan baik. Contoh susunan pakan itik petelur adalah sebagai berikut: 1. Dedak = 54,64 % 2. Menir = 13,66 % 3. Cangkang Udang Segar = 19,58 % 4. Ikan Rucah Segar = 9,11 % 5. Seng (ZnSo4) = 0.05 % 6. Kapur = 2,73 % 7. Top Mix = 0,23 % 3. Cara Pemberian Pakan Semua bahan selain cangkang udang dan ikan rucah segar ditimbang untuk keperluan satu minggu. Kemudian dicampur secara merata lalu dibagi menjadi 7 bagian dan masing-masing bagian dimasukkan kedalam kantong plastik yang berbeda. Masing-masing kantong plastik berisi 10,70 kg campuran perhari untuk 100 ekor. Ikan rucah segar (1,37 kg) dan setengah bagian dari pakan campuran dalam kantong plastik (5,40 kg) diberikan dalam bentuk agak basah pada jam 07.00 (pagi), kemudian cangkang udang segar (2,94 kg) dan setengah bagian dari pakan campuran tadi (5,40 kg) diberikan jam 15.00 (sore hari) dalam bentuk agak basah yaitu dengan jalan menambahkan sedikit air supaya tidak mudah ditiup angin dan memudahkan itik untuk mengkonsumsinya. V. ANALISIS USAHA Jika dibandingkan dengan penggunaan pakan tradisional, pakan hasil ramuan dapat meningkatkan produksi telur rata-rata sebesar 42,86%, dengan berat telur 68,57 gram, dan kekentalan putih telur (Naught-Unit) 82,54. Selain itu pakan tersebut dapat meningkatkan warm kuning telur sebesar 12,17% yang menimbulkan warm kuning telur cukup baik yaitu warm kuning kemerahan sebagai akibat adanya pigmen astaxanthin didalam cangkang udang. Biaya pakan harian yang diperlukan untuk pemeliharaan 100 ekor itik dengan pemberian pakan tersebut adalah sebesar Rp. 11.048,- jauh lebih murah dibandingkan biaya pakan yang biasa dilakukan petani yaitu Rp. 21.138,-. Sedangkan pendapatan harian yang diperoleh dari hasil penjualan telur itik, jika diumpamakan harga jual telur itik Rp. 600/butir adalah sebesar Rp. 25.716,- Dengan demikian pemeliharaan itik dengan pemberian pakan tersebut mempunyai nilai ekonomis sebesar 2,33% jauh lebih tinggi dibandingkan dengan cara petani (1,08%). Selain itu pendapatan harian yang diperoleh dari pemeliharaan 100 ekor itik dengan menggunakan pakan tersebut sebesar Rp. 14.668, sedangkan dengan cara petani hanya sebesar Rp. 1.614,- jadi akan diperoleh tambahan pendapatan kotor sebesar Rp. 13.054/ 100 ekor/hari untuk penggunaan pakan perbaikan. VI. KESIMPULAN Penggunaan pakan perbaikan selain terbukti lebih hemat, juga dapat meningkatkan produksi telur itik sebanyak 4,94 butir/ 100 ekor/hari dan mempunyai nilai efisien ekonomi lebih tinggi dari pada pakan tradisional. Tambahan pendapatan kotor yang diperoleh dengan menggunakan pakan perbaikan apabila dibandingkan dengan pakan tradisional adalah sebesar Rp. 13.054/100 ekor/hari. DAFTAR BACAAN Andayani, D. Muflihani, Y. Y.C.Rahardjo, B.Wibowo dan B.Bakrie, 1999. LaporanAkhirPenelitian AdaptifTeknologi Pakan dari Cangkang Udang Ikan Rucah untuk Itik Petelur. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta. BPT, 1990 Potensi Pengembangan Ink dengan Pemeliharaan Terkurung . Balai Penelitian Ternak Ciawi. Rahardjo, 1985. Nilai Gizi Cangkang Udang dan Pemanfaatannya untuk Ink. Prosidings Seminar Peternakan dan Forum Peternakan Unggas dan Aneka Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor Rasyaf, M.1984. Beternak Itik Petelur. Yayasan Kanisius, Yogyakarta. Sandhy, S.W.2000. Beternak Itik Tanpa Air. Penebar Swadaya Jakarta. Sinurat, A. P.2000. Penyusunan Ransum Ayam Buras dan Itik. Balai Penelitian Ternak Ciawi. Whendrato, I dan Madyana, LM, 1986. Beternak Itik Tegal Secara Populer. Eka Offset, Semarang. Nomor : O1/Bros/IPPTP JKT/2000 Oplag : 1000 eksemplar Sumber dana : Proyek Pengkajian Teknologi Pertanian Partisipatif (PAATP) DKI Jakarta Produksi : Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta TIDAK DIPERDAGANGKAN
PENYUSUNAN
RANSUM UNTUK ITIK PETELUR
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
INSTALASI PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN